Trataban.com - Keberhasilan penerapan kerangka kerja penargetan inflasi (Inflation Targeting Framework/ITF) Indonesia akan dipresentasikan dalam sebuah acara internasional yang diadakan di Yordania.
Direktur kebijakan ekonomi dan moneter Bank Indonesia, Solikin M Juhro dalam sebuah diskusi di Solo mengungkapkan kepastian hal itu. "Sekitar dua minggu lagi, kami akan memaparkan penerapan ITF di Indonesia dalam acara di Yordania," tuturnya.
Ketika Indonesia memaparkan tentang keberhasilan penerapan ITF ini, yang akan menjadi panelis adalah Profesor Joseph Eugene Stiglith. menurut penuturannya, ini adalah sebuah hal yang aneh mengingat profesor stiglith merupakan salah satu orang yang menolak kebijakan ini.
Dalam kerangka kerja kebijakan moneter, Bank Indonesia menganut sistem penargetan Inflasi (ITF). Terhitung sejak tahun 2005 kerangka kerja ini mulai digunakan secara resmi oleh Bank Indonesia. Kebijakan uang primer (base money) digunakan oleh Bank Indonesia sebelum metode ini.
Sasaran inflasi diumumkan kepada publik secara ekplisit oleh Bank Indonesia untuk kemudian pengarahan kebijakan publik dilakukan untuk mencapai target inflasi yang ditetapkan oleh pemerintah. Sasaran inflasi dicapai dengan cara "forward looking" yaitu perubahan "stance" kebijakan moneter melalui perkembangan pencapaian inflasi sesuai dengan yang telah direncanakan.
Keunggula dari metode ini adalah adanya keterbukaan informasi (transparansi publik) dan akuntabilitas yang dapatkita lihat dari "stance" penetapan suku bunga oleh Bank Indonsia. Dampak dari penetapan suku bunga ini dapat dirasakan secara langsung oleh sektor output dan inflasi.