Trataban - Asep Sunandar Sunarya dikenal sebagai seorang dalang yang punya jasa besar terhadap dunia perwayangan kita, utamanya adalah wayang golek. Beliau turut berandil besar membawa wayang golek dengan ikon Si Cepot melanglang buana bernilai khusus layaknya merek dagang (trade mark) khusus. Berkat jasa beliaulah dunia mengenal sosok si Cepot.
Kini Sang dalang kondang wayang golek itu telah berpulang menghadap ke Allah SWT pada Senin ini. Beliau Meninggal setelah menderita serangan jantung, meski sempat dirawat di RS Al Ihsan Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Aksi mendalangnya yang khas membuat sulit bagi kita untuk melupakannya. karya karyanya akan tetap abadi dalam khasanah budaya Indonesia, dan Sunda khususnya.
"Ia punya suara khas Si Cepot yang menjaditrade mark setiap panggung wayang golek. Ia membawa wayang golek keliling dunia," kata Dadan Sunandar, putra kedua Asep Sunandar Sunarya di Bandung, Senin.
Bersama Asep Sunandar, Si Cepot dan kawan-kawan (wayang golek) manggung di Eropa, seperti di Belanda, Jerman, Perancis, Belgia dan Turki.
Asep pada tahun 1980-an melakukan terobosan dengan mendobrak pakem wayang golek dengan menciptakan kreasi yang lebih hidup, sehingga termasuk dalang paling sukses pada masanya.
Bersama saudaranya yang turun sebagai dalang, seperti Ade Kosasih Sunarya (almarhum), Iden Sunarya dan beberapa dalang pedaran Giri Harja tercatat menempati peringkat panggung paling tinggi di Jawa Barat.
Si Cepot juga beraksi di Amerika dan beberapa negara Asia, apalagi di kawasan Perhimpunan Bangsa Asia Tenggara (ASEAN). Ia bahkan pernah manggung di Afrika.
Ikon Si Cepot melekat pada diri dalang kelahiran Bandung, 3 September 1955 itu. Trah pedalangan dari ayahnya Abah Sunarya cukup kuat.
Asep yang terakhir menjadi dalang kasepuhan Giri Harja itu bahkan mendapat gelar Kiai Haji (KH), setelah menjadi pendakwah dengan ikon suara khas Si Cepot.
"Terakhir ia banyak beraktivitas sebagai pendakwah," kata salah seorang kerabat yang menjadi juru bicara keluarga Asep itu.
Wayang golek bagi Asep Sunandar Sunarya, yang berputra 14 dan bercucu 11, sudah mendarah daging. Di tangan pria bersuara serak tersebut wayang golek menjadi hidup dan memberi kesan di mancanegara.
Berkat aksi dan terobosannya memainkan wayang golek, Asep Sunandar juga mendapat anugerah doktor honoris causa dari salah satu perguruan tinggi di Prancis.
Konsep panggung banyolan (malucu, dalam bahasa Sunda) Si Cepot menjadi pembawa kencenderungan (trend setter) pedalangan, dan sangat berkesan bagi penonton.
Dalam sejarah pewayangan di Tanah Air, ia adalah dalang wayang golek yang paling banyak manggung di luar negeri.
Sumber : Antara